Tari Bali Tetap Harus Dilestarikan
Tari Bali memiliki nilai adi luhur
yang sangat tinggi

Lorem ipsum dolor sit amet... Lorem ipsum dolor sit amet... Lorem ipsum dolor sit amet... Lorem ipsum dolor sit amet... Lorem ipsum dolor sit amet... Lorem ipsum dolor sit amet...

Tari Bali Tetap Harus Dilestarikan
Untuk meningkatkan rasa kepercayaan yang tinggi terhadap anak-anak pada saat pementasan suatu tarian, hingga tak dirasakan secara langsung maupun tidak langsung mereka telah ikut serta melestarikan Tari Bali karena Tari Bali memiliki nilai adi luhur yang sangat tinggi.

Tari Bali, Bebali dan Balih-Balihan

Umat Hindu dalam pelaksanaan upacara agama sering diiringi dengan tarian. Seni tari yang menyertai pelaksanaan upacara agama itu sering disebut tarian sakral.
 
 
 
Di Bali sampai saat ini tarian sakral masih tetap bertahan dan lestari. Hal ini terjadi karena salah satunya adalah pendukungnya tidak berani merubah atau meninggalkan begitu saja, karena diyakini akan membawa mala petaka bagi kehidupan.
 
Dapat dipahami bahwa pendukung tari sakral selalu akan melaksanakannya dalam kaitannya dengan upacara agama. Karena dengan keyakinan bahwa tari itu mempunyai peranan penting untuk mengantarkan harapan memenuhi kebutuhan hidup yang sangat mendasar baik secara pribadi maupun orang banyak.
 
Harapan di atas tersirat bahwa dengan menarikan tarian sakral itulah sebagai media persembahan dan pemujaan terhadap Tuhan. Kemudian beliau berkenan memberikan perlindungan, keselamatan, kekuatan, kesejahtraan dan kebahagian hidup.
 
Untuk menghindari pengertian yang baur tentang seni tari, sejalan dengan perkembangan seni tari itu sendiri, maka dibuatlah rumusan klasifikasi tarian ke dalam tiga golongan, yakni :
 
1) Tari Bali atau Wali, adalah suatu tari yang pementasannya dilakukan sejalan dengan pelaksanaan upacara. Tarian ini tidak mengandung ceritra, hanya mengandung simbolis religius, seperti terlukis dalam tarian Rejang, Pendet, Sanghyang, tari Baris Gede.
 
2) Tari Bebali, adalah tari yang pementasannya menunjang jalannya upacara yakni sebagai sarana pengiring. Tarian ini dipentaskan bersamaan dengan upacara berlangsung dan tarian ini mengungkap suatu ceritra, yang disesuikan dengan upacara yang diselenggarakan saat itu.
 
3) Tari Balih-Balihan, adalah tari yang tidak termasuk sakral, hanya berfungsi hiburan dan tontonan yang mempunyai unsur dasar seni tari yang luhur, seperti : tari legong, tari janger, joged dan lain-lainnya.
 
TOPENG PAJEGAN
 
Sesuai dengan penggolongan tari Bali yang termuat dalam Keputusan Seminar Seni Sakral dan Profan dalam Bidang Tari, Topeng Pajegan digolongkan dalam Tari Bebali. Menurut keputusan seminar tersebut di atas, yang dimaksud dengan tari Bebali adalah tari yang berfungsi sebagai pengiring upacara dan upakara di Pura-Pura ataupun di luar Pura-Pura serta memakai lakon. Pementasan Topeng Pajegan biasanya untuk melengkapi “upakaranya” suatu upacara keagamaan. Tanpa kehadiran dari Topeng Pajegan itu suatu upacara dianggap belum sempurna.
 
Pada umumnya Topeng Pajegan disajikan di halaman “dalam” sebuah tempat persembahyangan atau pada tempat-tempat suci lainnya. Pementasannya dilaksanakan bersamaan dengan berlangsungnya suatu upacara, ketika seorang /atau lebih “Padanda” (pendeta) melakukan/”muput” upacara itu. Pementasan Topeng Pajegan biasanya tidak memerlukan dekorasi dan pelakunya beraksi di muka barungan gamelan yang mengiringinya.
 
Topeng Pajegan biasanya mengambil lakon dari Babad atau Sejarah. Akan tetapi lakon apapun yang dipentaskan kehadiran seorang tokoh yang disebut “Sidhakarya” mutlak ada. Adapun arti yang terkandung dalam Sidhakarya itu ialah selesainya suatu upacara yang diadakan. Sedangkan sarana lain yang menyertai pementasan Topeng Sidhakarya adalah dengan membawa “sekar ura, bija kuning, uang kepeng”, sebagai sesajen, lambang pemberkahan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983 : 25).
 
Wujud Topeng Sidhakarya itu sangat menakjubkan berbentuk denawa bertaring, serupa dengan Topeng Wayang Wong atau Barong Kedingkling. Tokoh Sidhakarya berfungsi pula untuk menetralisir Bhutakala (bhuta masiha), memupuk keharmonisan hubungan manusia (manusa sidhya masiha) dan persembahan kepada dewa-dewa (dewa mantara masiha).
 
Topeng Sidhakarya ini juga dikenal oleh masyarakat Bali (anak-anak) sebagai topeng “pengejukan”, karena pada waktu menaburkan sekar ura dengan uang kepengnya serta menangkap anak-anak, diberikan uang kepeng, disamping sebagai lambang berkah, mungkin pula maksudnya sekedar untuk memberikan keseriusan, sehingga di hati anak-anak ada pergulatan perasaan antara takut dan berani

Berita dan Artikel

Seni Tari dari Daerah Bali

Bali terkenal dengan sebutan Pulau Dewata, selain kaya ak


Tari Bali, Bebali dan Balih-Balihan

Umat Hindu dalam pelaksanaan upacara agama sering diiring


Seni Tari Tradisional Bali

Siapa yang tidak kenal Bali atau sering disebut pulau wis


Mengenal Macam-Macam Tarian Bali

siapa sih yang tidak mengenal tari Bali? Saya yakin semua